Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

8 Cara memberikan Masukan Menggunakan Bahasa Sunda

8 Cara memberikan Masukan Menggunakan Bahasa Sunda

8 Cara memberikan Masukan Menggunakan Bahasa Sunda
Pixabay.com


Belajarsunda.com – Sama dengan bahasa lainnya, dalam bahasa Sunda, kita juga bisa memberikan masukan kepada orang lain. Terdapat banyak kalimat atau ungkapan yang tentu saja bisa digunakan baik kepada teman-teman sepermainan, atau bahkan ke orang yang lebih tua. Supaya lebih jelas, simak beberapa ungkapan berikut ini.

Cara Memberikan Masukan Menggunakan Bahasa Sunda Loma

1. Ceuk urang mah 

Ceuk urang mah berarti: Menurut aku .... Biasanya, kalimat nomor satu ini digunakan kepada teman sejawat yang sudah biasa menggunakan bahasa informal. Kata ‘urang’ di sini termasuk bahasa yang lazimnya digunakan saat mengobrol dengan orang yang sepantaran. Contoh kalimatnya:

A: Ceuk urang mah mending maneh teh gera kawin da geus dewasa. (Kalau menurut saya, mending kamu cepet nikah, kan udah dewasa).

B: Kawin mah lain ku dewasa atawa henteuna, tapi ku siap atawa henteuna. (Nikah itu bukan masalah dewasa atau enggak, tapi masalah siap atau enggak).

2. Kuduna mah ...

Dalam bahasa Sunda, kuduna berarti: seharusnya .... Biasanya, ungkapan ini digunakan ketika ingin membenarkan sesuatu yang salah. Contoh dalam kalimat:

A: Kuduna mah motor teh diomean lain dijugrugeun teu puguh. (Harusnya motor itu dibenerin, bukan disimpen gitu aja).

B: Can aya duitna puguh. (Belum ada uangnya nih).

3. Kumaha Lamun

Kumaha lamun lebih menekankan kepada alternatif lain. Kumaha lamun berarti: gimana kalau. Coba lihat contoh kalimat di bawah ini:

A: Kumaha lamu naek motor ka lautna? (Gimana kalau naik motor berangkat ke lautnya?)

B: Naek mobil weh meh ngeunaheun. (Naik mobil aja biar enak).

4. Mening ....

Kata-kata Mening atau mending, berarti: Mendingan .... Biasanya menitikberatkan kepada sesuatu yang lebih baik, atau lebih bagus. Contoh:

A: Mening maneh teh geura mani meh teu bau. (Mendingan kamu cepet mandi biar nggak bau).

B: Hoream ah, tiris. (Nggak mau ah, dingin).

Cara Memberi Masukan Menggunakan Bahasa Sunda Lemes (Halus)

5. Upami saur abi mah 

Ungkapan nomor 5 ini sebenarnya sama saja dengan ungkapan nomor 1. Hanya saja, nomor 5 ini lebih halus. Biasanya digunakan ketika kita mengobrol dengan seseorang yang lebih tua, atau seseorang yang lebih dihormati, misal orangtua atau guru. Misalkan:

A: Upami saur abi mah saean keneh nganggo acuk warna beureum. (Kalau menurut saya bagusan pakai baju warna merah).

B: Eh muhun. Anu ieu mah poek teuing nya. (Oh iya ya. Kalau yang ini terlalu gelap ya ...).

6. Pami Teu Kaabotan

Kalimat nomor 6 biasanya digunakan ketika ingin memberi masukan, tapi dengan cara minta izin terlebih dahulu. Pami teu kaabotan berarti: Kalau nggak keberatan. Kalimatnya seperti ini:

A: Pami teu kaabotan mah mending gantos weh acukna. Eta mah ageung teuing. (Kalau nggak keberatan, mendingan kamu ganti baju deh. Ini kebesaran).

B: Alah enya. Nuhun nya. (Oh iya. Makasih ya).

7. Sapartosna mah

Sapertona mah berarti: Sepertinya .... Biasanya ungkapan ini lebih menebak-nebak, tetapi sering banget digunakan. Misalkan:

A: Sapertosna mah nuju teu damang nya? Calik weh atuh, hawatos. (Sepertinya kamu lagi sakit ya? Istirahat aja, kasian).

B: Henteu da, nuju sehat abdi mah. Neme gugah bobo. (Nggak apa-apa. Aku sehat kok. Barusan baru bangun tidur).

8. Kumaha Upami

Ungkapan nomor delapan ini sama dengan ungkapan nomor tiga. Hanya saja, nomor delapan lebih halus. ‘Upami’ dan ‘Lamun’ memiliki arti yang sama, yaitu: kalau ... Tapi ‘upami’ lebih sering digunakan dengan padanan yang lebih lemes. Contoh:

A: Kumaha upami artosna dipeserkeun kana beas? (Gimana kalau uangnya dibelikan beras?)

B: Oh mangga weh. Engke beasna dibagikeun nya. (Boleh. Nanti berasnya dibagikan ya).

Nah, itulah 8 cara memberikan masukan menggunakan bahasa Sunda. Bagaimana, gampang kan?


Posting Komentar untuk "8 Cara memberikan Masukan Menggunakan Bahasa Sunda"